Bangkitnya Ecotourism di Magelang, Semoga!

Gardu Pandang Silancur dengan latar belakang Gunung Sumbing
Gardu Pandang Silancur dengan latar belakang Gunung Sumbing (Foto: Haris)

Lebaran kedua 2017 (Selasa, 26 Juni), sekitar jam 06:30 WIB saya bersama istri dan dua anak, berangkat ke Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang hanya berjarak sekitar 14 km dari alun-alun. Karena kesiangan, gagal rencana motret sunrise. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali (biasa nyari alibi).

Tujuan utamanya ke Gardu Pandang Mangli. Tapi, akhirnya saya parkir di Gardu Pandang Silancur, yang saat itu saya anggap sebagai Mangli. Suhu sekitar 17 derajat Celcius. Cukup dingin untuk orang Jabodetabek.  Dan anginnya alamaaakkk. Kuenceng. Apalagi saya tidak memakai jaket. Tapi cadangan lemak pada tubuh saya mampu menghalau hawa dingin tersebut. (Anak laki saya akhirnya nyerah dan berlindung di mobil setelah satu jam dihajar angin kencang).

Saya naik ke gardu pandang setelah membeli tiket masuk seharga Rp5.000 per orang. Pengunjung belum banyak. Hanya ada ada satu mobil plat B yang parkir di dekat saya dan beberapa motor plat lokal AA.  Sebelum naik ke gardu pandang yang terbuat dari bambu, saya menyempatkan diri mengambil beberap foto. Ada spot menarik, lereng Gunung Sumbing diselimuti kabut tebal yang berarak kencang. Mirip awan di langit Jepang. Biru pekat dengan awan putih berlarian.

Langt biru kontras dengan awan putih tebal (Foto: Haris)
Langt biru kontras dengan awan putih tebal (Foto: Haris)

Penyesalan saya karena tidak bisa melihat sunrise terobati ketika saya bertemu dengan pemilik Gardu Pandang Silancur (GPS). Gardu di atas bukit kecil ini ternyata milik perorangan, kepunyaan Jarwo (No HP 0856-43229-991). Gardu berada di punthukan paling atas. Sebelum naik ke gardu ada dua punthukan (gundukan) bukit yang memiliki jalan melingkar. Di jalan melingkar itu dibangun beberapa gubuk atau gazebo.

Jarwo, pemilik Gardu Pandang Silancur. (Foto: Haris)
Jarwo, pemilik Gardu Pandang Silancur. (Foto: Haris)

Di dekat pintu masuk, berdiri warung mungil dari bambu yang menyatu dengan tempat penjualan loket. Warung ini menyediakan mie dan kopi instant. Saya tidak tahu, kalau hari biasa, tersedia gorengan atau tidak. Yang pasti, saat saya ke sana pagi hari, warung belum buka. Mereka baru berjualan sekitar pukul  07:30.

Tiket masuk (Foto: Haris)
Tiket masuk (Foto: Haris)

“Dinten niki sunrise mboten sae, pak (sunrise hari ini tidak baik),” kata Jarwo membuka pembicaraan.  Lalu, kami ngobrol ngalor ngidul menggunakan bahasa kromo inggil. Sebagai piyayi Jawa, saya terbiasa ngomong kromo. Soal tepat atau tidak, nggak perlu dibahas.

Menurutnya, angin kencang baru terjadi dua hari, mulai lebaran pertama. Di saat saya ngobrol, dua anak saya mengeksplore menggunakan ponsel masing-masing. Kamera di bawah kuasa saya, mutlak.  Sambil motret, saya terus ngobrol, terutama soal konsep bisnis yang tengah dijalankan GPS.

Beberapa orang yang datang ke GPS, menurutnya, sudah menawarkan modal untuk menyulap tempat tersebut menjadi tempat peristirahatan. “Tapi saya tidak mau. Saya ingin tanah ini kami kelola bersama anak cucu,” tegasnya. Saya sempat bertemu juga dengan ayah Jarwo, yang juga datang ke lokasi.

Brokoli segar dari kebun (Foto: Haris)
Brokoli segar dari kebun (Foto: Haris)

Untuk menunjang bisnis GPS, Jarwo melibatkan tetangga. Ada yang membangun lahan parkir mobil di pinggir jalan. Juga kebun-kebun di sekitar GPS diberdayakan Jarwo untuk melayani pengunjung. Istri saya sempat memetik brokoli, yang per bijinya dihargai Rp2.500. Lebih murah dibanding harga di pasar tradisional di Jabodetabek yang menurut istri berkisar Rp9.000. Maaf saya tidak tahu harga brokoli di pasar tradisional Magelang. Jadi tidak bisa membandingkan. Juga membeli pohon onclang di dalam polybag. Di sini memang menjual berbagai sayuran segar. Tidak semua milik GPS, tapi boleh dibeli dan memetik sendiri. “Di sebelah sana ada stowbery, tapi belum berbuah,” ujarnya.

Dia ingin tetangga terlibat dalam bisnis pariwisata ini, meski menurutnya tak mudah. Padahal, jika mereka bekerja sama niscaya daerah tersebut bisa berkembang. Ada yang menyediakan homestay bagi masyarakat yang ingin menginap atau menyewakan tenda bagi yang ingin berkemah. “Banyak yang ingin menginap di sini, tapi tidak ada penginapan,” keluhnya.

Mangli

Dua hari setelah ‘kesasar’ ke Silancur, saya benar-benar mengunjungi Gardu Pandang Mangli. Sayang, saya tak bisa sepagi saat mendatangi Silancur. Sekitar jam 11:30 saya baru sampai di Mangli. Mobil tidak bisa naik ke atas. Saya parkir di pinggir jalan, kemudian disambung ojek PP Rp15.000 (biasanya Rp10.000) per orang. Mereka sabar menanti sampai kita puas memotret (lama pun dia tak protes).

mangli dirga

Perjalanan naik dengan ojek lumayan, sekitar 1-2 km dengan jalan makadam. Tukang ojek yang penduduk asli di situ sudah canggih melewati tikungan dan tanjakan. Saya disuruh duduk menempel tukang ojek agar berat kendaraan stabil saat menanjak. Perjalanan naik tak masalah, namun perjalan turun begitu mendebarkan. Turunan tajam dengan jalan makadam. Bikin deg-degan. Sempat membayangkan kalau rantai motor itu putus…..Saya, dan juga anak-anak, berpegang erat pada bagian belakang jok sehingga anak-anak kampung meledek. “Takut yah…,” ujar mereka.

Di Gardu Pandang Mangli terdapat banyak spot untuk berfoto. Ada gardu yang menempel di pohon dengan latar belakang lereng Gunung Sumbing, ada yang bersentuhan langsung dengan awan putih sehinga kita serasa sedang naik pesawat dan menembus awan. Karena siang hari yang terik, hasil jepretan kurang maksimal.

Gardu Pandang Mangli (Foto: Haris)
Gardu Pandang Mangli (Foto: Haris)

Berfoto di gardu pandang yang menempel di atas pohon, hampir mirip dengan foto studio karena latar belakangnya menjadi putih. Itu bukan kain background di studio tetapi awan tebal di lereng tersebut. Nih hasilnya,

Latar belakang awan putih (Foto: Dirga)
Latar belakang awan putih (Foto: Dirga)

Di sini, banyak tanaman tembakau, kapri, onclang, kol dan juga strobery. Sebenarnya ada juga air terjun di sekitar situ, tapi saya memilih tak ke sana karena faktor stamina plus lapar yang menyerang. Anak-anak mengajak makan kupat tahu di Tahu Pojok, dekat alun-alun. Karena kehabisan, akhirnya makan kupat tahu di Pak Slamet. ***

Foto big size bisa dilihat di Shutterstock,  Dreamtime,  Gettyimage,  dan Adobe.

 

Mendadak Miskin

tribunews.com

Awalnya saya tidak peduli dengan maraknya status di media sosial mengenai surat keterangan tidak mampu (SKTM) untuk pendaftaran online masuk SMP atau SMA/SMK negeri di Jawa Tengah. Pertama, saya tidak bersinggungan langsung karena tidak memiliki anak yang sedang mendaftar sekolah. Kedua, saya menduga ortu itu hanya mengikuti tren drama Korea yakni lebay dalam menganggapi suatu persoalan.

Namun, anggapan kedua saya salah setelah seluruh lini media sosial, juga media massa, baik yang pro maupun kontra dengan pemerintah, membahas penyelewengan SKTM di Jateng ini.  Bahkan, akun  Instragam Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo soal komplain soal PPDB online ini disukai 10.697 netizen dengan 11.889 komentar.

Ganjar mengaku, pihaknya memberi peluang bagi setiap sekolah untuk menampung 20 persen warga tidak mampu untuk merasakan pendidikan yang berkualitas. Mereka yang tidak mampu bisa mendaftar dengan melampirkan SKTM atau Kartu Indonesia Pintar (KIP). Kebijakan tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 tahun 2017 bahwa tiap sekolah wajib menyediakan kuota 20 persen bagi siswa tidak mampu.

Saya tidak tertarik membahas soal kebijakan karena saya tidak berkompeten. Bukan anggota dewan, bukan pakar pendidikan, bukan pakar kebijakan publik, bukan pula praktisi pendidikan. Kalau saya membahas, siapa yang akan percaya?

Saya lebih tertarik membahas perilaku warga yang tiba-tiba mengaku miskin. Mendakan miskin. Misalnya, dua pelajar berseragam SMP yang mengendarai motor dan mendaftar di SMAN Semarang. Dia disuruh orang tuanya  mengurus SKTM untuk mendaftar ke sekolah tersebut, meski mereka sadar bukan orang miskin. Kelurahan sempat menanyakan Kartu Indonesia Pintar atau Kartu Miskin. Meski tak bisa menunjukkan, toh, pelajar tersebut tetap mendapatkan SKTM. (Baca di sini)

Moralitas

Bagi sebagian orang, kuato 20% adalah sebuah peluang untuk masuk ke sekolah favorit meski nilai ujian nasionalnya rendah. Satu-satunya jalan adalah memanfaatkan SKTM tadi. Dan untungnya, aparat dengan mudah memberi surat tersebut seperti contoh di atas. Padahal, kalau mau, mereka bisa menolak. Tentu, dengan alasan logis. Apakah keluarga tersebut masuk dalam daftar keluarga miskin di Badan Perencanaan Daerah (Bappeda). Jika tidak, aparat tak perlu mengeluarkan SKTM karena syarat utama mendapat SKTM adalah terdaftar sebagai keluarga miskin.

Persoalannya, apakah aparat memiliki akses data ke Bapeda secara online? Atau mereka memiliki data keluarga miskin yang ada di daerahnya sehingga ketika ada pengajuan mereka tinggal mengecek ke data tersebut. Kalau aparat keluarahan tak memiliki data tersebut, urusan jadi berabe.

Atau aparat memiliki data tersebut, tetapi enggan mengecek. Bisa pula karena yang mengajukan tetangga sehingga ada unsur tidak enak untuk menolak meski sejatinya tahu orang tersebut tidak layak mendapatkan SKTM.

Kalaupun aparat memiliki data dan mamu membuka serta mencocokkan data tersebut, apakah data kemiskinan yang ada masih valid. Kapan data itu terakhir direvisi? Bagaimana kriteria penentuan miskin dalam data tersebut? Apakah masih mengacu pada 14 kriteria yang ditetapkan BPS? Jika iya, data tersebut layak dipertanyakan. Dalam kriteria tersebut yang disebut miskin, salah satunya, berpenghasilan di bawah Rp600.000 per bulan (Baca di sini). Ataukah data tersebut mengacu pada pengertian fakir miskin seperti dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 di mana fakir miskin adalah orang yang tidak punya sumber mata pencaharian dan/atau punya sumber mata pencaharian, tetapi tidak punya kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan diri dan/ atau keluarganya. (Baca di sini) Keabsahan data masih bisa dipertanyakan banyak pihak.

Lalau dari mana dasar aparat untuk memberikan SKTM? Pertama, kalau mereka masuk dalam daftar keluarga miskin, wajib hukumnya diberi SKTM. Kedua, moralitas. Ini yang agak ribet. Jika pengusul tidak masuk dalam daftar keluarga miskin, aparat harus menggunakan standar moral untuk menentukan layak atau tidaknya seseorang mendapat SKTM.

Benteng pertama untuk menyeleksi berada di Ketua RT baru Ketua RW dan Lurah/Kepala Desa. Jenajang ini harus dipegang teguh. Ketua RT yang akan menilai apakah seseorang bisa disebut miskin atau tidak. Di Jateng umumnya RT hafal dengan warganya dan tahu persis kondisi ekonominya. Jika yang mengajukan adalah keluarga mampu, seyogyanya RT menolak. Gunakan saja alasan formal bahwa ia tidak berani memberi karena keluarga tersebut tidak terdaftar sebagai keluarga miskin. Jika RT sudah menolak, aparat di atasnya harus sejalan. Turut menolak pengajuan tersebut. Jangan sampai memberi peluang jalan pintas, memberi pengantar tanpa surat persetujuan RT.

Permasalahan berikutnya, maukah Ketua RT berpikir lebih dalam dengan risiko dibenci warga yang ditolak pengajuan SKTM nya? Apalagi, RT adalah jabatan sosial tanpa imbalan. Sudah tidak dibayar, akan dibenci pula!

Sepertianya, bukan hanya RT yang bermoral. Orang tua murid pun harus memiliki moral baik. Jika sekiranya dirinya mampu, buat apa mengajukan SKTM. Bukankah dengan memebuat SKTM aspal ini, artinya, dia memberangus kesempatan keluarga miskin untuk bersekolah di sekolah berkualitas? Bukankah dia telah merampas si miskin untuk mengubah hidupnya, untuk memutus rantai kemiskinan, minimal, di keluarga sendiri?  Bukankah saat ini banyak sekolah swasta yang kualitasnya juga baik?

Mari kita dukung langkah pemda yang akan mengecek kondisi siswa pemegang SKTM. Jika ternyata mereka bukan keluarga miskin, akan dikeluarkan dari sekolah. Ini janji pemprov Jateng. Kita tunggu buktinya!

 

Mangut Pedas Khas Magelang

Cabai rawit berdesakan di kuah santan merah. (Foto: Joko Harismoyo)
Cabai rawit berdesakan di kuah santan merah. (Foto: Joko Harismoyo)

Jika selama ini Magelang diidentikkan dengan makanan manis, seperti getuk dan gudeg, Anda akan kaget ketika menyantap mangut beong di sekitar Candi Borobudur. Tak ada rasa manis sedikit pun. Hanya gurih dan pedasss!!!

Spanduk Omah Kayoman
Spanduk Omah Kayoman (Foto: Joko Harismoyo)

Sebelum ngomongin soal mangut, kita bahas dulu ikan beong. Nama beong mungkin asing bagi sebagian orang. Ikan ini hidup di Kali Progo, mungkin juga di sungai lainnya, yang berhulu di sekitar Gunung Sindoro. Ikan beong bernama latin Mystus nemurus. Berwarna hitam, memiliki tiga patil, dan ‘kumis’ melintang panjang khas ikan lele. Rasanya lebih maknyus dibanding  lele maupun patin. Gurih.

Omah Kayoman. (Foto: Joko Harismoyo)
Omah Kayoman. (Foto: Joko Harismoyo)

Kendati habitat aslinya di Sungai Progo, tidak banyak warung yang menyajikan menu ikan beong karena populasinya menurun beberapa tahun terakhir. “Kalau ngandalin Progo susah. Saya dikirim dari Wonogiri dua hari sekali,” ujar perempuan setengah baya di warung tempat saya makan, Omah Kayoman di Jalan Paren, Progowati, Mungkid, Magelang. Ndak usah tanya siapa nama ibu itu karena saya tidak sedang mencari berita. Dalam sehari, Omah Kayoman bisa memasak sampai 30 kg ikan beong.

Menurutnya, ikan beong Progo ukurannya kecil, sedang pasokan dari Wonogiri ini masih jumbo. “Tuh, beong Progo di akuarium,” lanjutnya sambil menunjuk akuarium berisi satu ikan beong yang ngumpet di pipa paralon ukuran sedang sehingga hanya terlihat kumisnya.

Sensasi Pedas

Omah Kayoman menyediakan menu ikan beong, patin, nila dan wader. Tapi mangut ikan beong menjadi pilihan utama sebagian besar pengunjung, termasuk saya. Beberapa kali makan di tempat ini, saya selalu memesan mangut beong. Kalau sedang enggan menyantap kepala yang super gede, saya memilih bagian lain yang lebih kecil.

Ndas beong ukuran sedang. Mau yang jumbo? (Foto: Joko Harismoyo)
Ndas beong ukuran sedang. Mau yang jumbo? (Foto: Joko Harismoyo)

Kuah mangut berwarna merah sungguh menggoada. Cabai rawit merah bertebaran di sekitar ikan. Coba ceplus cabai jika ingin merasakan sensasi pedas yang luar biasa. Santan cair yang direbus dengan cabai membuat kuahnya juga pedas sehingga rada pedas itu  merasuk ke daging ikan. Cita rasa mangut beong ini unik. Dagingnya tebal dan empuk. Lebih gurih dan tidak terlalu amis dibandingkan ikan sejenis seperti lele atau ikan patin.

Pengunjung lahap menyantap mangut beong. (Foto: Joko Harismoyo)
Pengunjung lahap menyantap mangut beong. (Foto: Joko Harismoyo)

Cara memasaknya, cabai rawit ditumis bersama dengan daun salam dan serai dalam satu wajan. Cabai sengaja utuh dan tidak dihaluskan supaya pelanggan yang tidak terlalu suka pedas dapat menyisihkan sebagian cabainya. Sementara ikan beong digoreng dulu hingga garing. Baru setelahnya, bumbu mangut dibuat dari racikan bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar, dan lengkuas. Aroma harum tercipta dari daun serai dan salam yang dimasukkan saat merebus kuah. Tambahan tomat dan bawang putih menambah masakan semakin segar.

Setelah kuah siap, ikan beong yang sudah digoreng garing dimasukkan ke rebusan kuah selama beberapa saat. Tambahkan santan dalam kuah setelah mendidih agar bumbu mangut lebih meresap dalam daging dan lebih empuk.

Meski Omah Kayoman cukup terkenal, jangan bayangkan sebagai sebuah resto besar di mall. Ini hanya sebuah warung makan yang memanfaatkan rumah pemiliknya. Letaknya pun masuk ke jalan desa. Tempat parkirnya adalah halaman rumah pemilik warung. Warung berada di samping rumah inti, dengan kursi plastik dan tempat lesehan.

Menu makanan ditaruh di lemari kaca, layaknya sebuah warteg. Dengan ‘layar sentuh’ kita bisa memilih menu yang diinginkan. Meski ‘nyempil’ warung ini dikunjungi pelancong luar kota. Beberapa kali ke sana saya selalu bertemu dengan mobil plat luar kota. Apakah rasanya lebih maknyus dibanding mangut beong di Sehati, Ndas Beong Kembanglimus atau Omah Mangut? Saya tidak bisa menjawabnya karena sampai saat ini saya hanya makan mangut beong di Omah Kayoman. Tunggu saya mencicipi mangut di tempat lain. (*)

 

Permainan Masa Lalu yang Membuat Anak-anak Gembira

GIANT TOPS SPINNING
Gasing Tjero Tri Datu seberat 4 kwintal.

Pagi itu (28 Februari 2017), ketika Bentara Budaya baru saja buka, saya sudah tiba di sana. Sengaja saya tidak menemui kawan lama, wartawan Kompas yang menjadi Direktur Bentara Budaya, Frans Sartono, karena saya ingin menikmati kesendirian. Kembali ke masa lalu, ketika saya bermain kapal klothok atau menggelindingkan pelek sepeda dengan potongan batang pohon atau bambu.

Melihat anak-anak TK digiring ke Galeri Sisi yang berisi ratusan gasing dari Nusantara, saya ikut masuk ke situ. Melihat-lihat bentuk gasing, baik panggang maupun blenthongan, dari Aceh hingga Papua. Gasing-gasing ini kebanyakan koleksi Endi Agus Riyono, pemerhati dan pelestari permainan tradisional Indonesia.

Meski banyak gasing berukuran besar yang harus diputar dengan tali gedhe dengan cara dilempar dari atas, dari bawah atau dikepret, penjaga gasing di situ hanya mengajarkan bermain gasing dari bambu dan gasing buah mojo. Kecil dan mudah, karena hanya ditarik dengan benang. Menarik karena mengeluarkan suara. Gasing bambu seperti itu masih bisa ditemukan di pasar tradisional atau penjual kerajinan di berbagai tempat wisata.

Di booth gasing ini yang menarik adalah gasing dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menampilkan gasing cukup banyak dan proses evolusinya. Pada awalnya berbentuk blenthongan, lalu secara bertahap menjadi pipih dan lebar.

Puas melihat gasing, saya masuk ke gedung utama di bagian tengah. Di sini, banyak anak SD sedang bermain. Ada yang main dakon/congkal, telepon-teleponan dari benang dan kaleng susu, kapal klothok, lompat tali pakai karet gelang, bekelan, sundah mandah atau menggambar layang-layang. Ada yang menggelindingkan pelek sepeda dengan bantuan potongan batang pohon.

Persis seperti yang saya lakukan puluhan tahun silam. Bahkan, saya juga menggelendingkan ban sepeda keliling kampung. Memotong bambu menyerupai setang motor, lalu menempelkan nomor pebalap motor cross andalah Magelang Soma dan Hoho. Bertanding dengan teman sebaya mengelilingi lapangan yang dianggap sebagai trek balapan. Trek itu dilengkapi gundukan sebagai sarana jumping. Permainan fisik yang melibatkan teman sebaya.

Ada juga alarm dari bekas kaleng susu. Dulu, saya membuat alarm dari bekas susu Indomilk kecil dan uang Rp5. Koin itu dilubangi bagian tengah, lalu dimasukin karet gelang yang dihubungkan ke tiang bambu bagian kanan dan kiri. Koin itu saya tindih dengan batu. Sementara kaleng saya ikat dengan benang warna hitam. Saya taruh di dekat masjid di mana ibu-ibu biasa lewat. Ketika benang itu tersandung kaki, ibu-ibu akan kaget dan mengomel. Kemarahan ibu dan nenek-nenek itu membuat kami bahagia. Dan ibu atau nenek paling latah justru menjadi incaran anak-anak.

Alarm dari kaleng susu.
Alarm dari kaleng susu.

Anak-anak SD itu tampak riang bermain. Mereka bercakap, berlari dan sendau-gurau. Suasan yang jarang didapat ketika mereka bermain play station atau game di ponsel cerdas.

Kegairahan anak-anak SD itu berlanjut ketika saya sampai ke halaman depan Bentara Budaya di mana dipajang gasing dari Bali bernama Tjero Tri Datu. Gasing seberat 4 kuintal berwarna hitam dengan warna merah dan putih melingkari bagian atasnya membutuhkan sekitar 12 orang untuk mengangkatnya.  Anak-anak itu memutar gasing, lalu tertawa terbahak.

Ada juga yang meminta bantuan guru bermain egrang. Guru memegang bambunya, lalu anak-anak itu naik dan berjalan dengan ‘kaki’ bambu tersebut. Yang tak kalah menarik, anak laki-laki mengambil tali di tengah lapangan. Mereka tarik tambang tanpa ada wasitnya. Sungguh senang melihat anak-anak bahagia dengan permainan tradisional. Rasanya, ingin kembali menjadi anak-anak yang bebas berekspresi walau dengan alat-alat yang sederhana.

Foto-foto gasing nusantara bisa dilihat di sini.

Istri Budi

Foto: pixabay
Foto: pixabay

Bukan aku saja, beberapa tetangga, juga heran dengan Windy. Wajahnya layak masuk televisi. Andai kulitnya terawat dan memakai baju bagus, orang akan mengira ia artis. Hanya nasib yang membawanya menjadi seorang tukang cuci dan istri Budi.

Budi bukanlah pria ganteng. Wajahnya standar, cenderung ke minimalis. Perawakannya kurus. Mungkin selagi muda belum seceking sekarang. Tetapi tetap tak ada tanda-tanda ia bertubuh atletis.  Katanya, dulu ia pemain band. Pemain gitar andal.

Dia berhenti menjadi pemain band ketika mobil yang membawa rombongan untuk pentas terbalik dan masuk jurang. Beberapa temannya tewas, sementara Budi patah kaki. Akibatnya, ia sedikit pincang ketika berjalan.

Sejak itu Budi tak lagi menjadi gitaris. Dia beralih profesi menjadi pengamen bis dengan gitar kecil. Dia berangkat pagi hari, sekitar pukul 05:30 WIB dengan mengendarai motor. Sehabis mengantar Windy ke pabrik, dia mulai mengamen.

Namun, Budi terpaksa pensiun setelah penyakit asma menggerogotinya. Nafasnya sering tersengal-sengal dengan suara mengi. Kalau nafasnya normal, batuknya menjad-jadi. Batuk bersuara berat, seakan dahak yang ada di saluran pernafasan sulit keluar.

Kini, tugasnya hanya antar jemput istri ke pabrik. Sekitar jam 07:00 ia sudah di rumah. Sehabis mamarkir motor di ruang tamu, ia berganti celanda pendek. Berjemur di halaman rumah. Pagar pohon teh-tehan di rumahnya hanya semeter, sehingga kegiatan Budi di halaman itu terlihat oleh tetangga yang lewat.

Yang kadang membuat risih tetangga, dan tentu juga aku, adalah kebiasaannya setelah berjemur yaitu menonton televisi hanya dengan memakai celana dalam. Jika celana pendek Budi masih berwarna-warna, tidak halnya dengan celana dalam. Budi selalu memakai celana dalam warna cokelat.

Warna yang membuat aku cukup bingung. Budi jarang memakai celana atau baju warna coklat. Cat rumahnya putih dengan aksen biru. Motornya berwarna hitam dengan stiker merah. Tak ada unsur coklat. Helmnya juga berwarna hitam. Entah mengapa dia begitu cinta dengan celana dalam warna coklat. Atau, jangan-jangan, coklat bisa ‘menutupi’ kotor sehingga ketika dua atau tiga hari tidak dicuci tak akan terlihat. Ingat, ini hanya prasangka buruk saja. Belum tentu benar, tetapi belum tentu salah juga.

***

Pagi itu Budi tak mengantar istrinya kerja. Penyakit asmanya kambuh. Windy diantar tukang ojek. Budi tak bisa berjemur di halaman rumah. Juga tak menonton televisi dengan kostum celana dalam coklat. Dia terbaring di kamar dengan nafas tersengal-sengal.

Dengus nafasnya terdengar sampai depan rumah. Aku iba, membayangkan sakit dadanya saat bersusah payah menghirup udara. Meski pintunya tertutup, aku tahu, pintu itu tak berkunci. Hanya diganjal batu. Kudorong pelan dan pintu terbuka. Aku menerobos masuk ke kamar.

Budi nungging di atas kasur. Tangannya memukul-mukul bantal sambil berteriak. Mengaduh kesakitan. “Pak Budi!” ujarku setengah berteriak. Dia menoleh, memandangku dan kembali tangannya memukul-mukul bantal.

“Obat asmanya di mana? Saya ambilkan!” sergahku. Budi menggelengkan kepala sambil memberi tanda jika dia sudah tak memiliki obat lagi. Sepertinya dia enggan bicara karena menahan rasa sakit di dada. “Obatnya habis?’ Tanyaku lagi. Budi mengangguk pelan.

Aku keluar. Balik ke rumah. Mencari persediaan obat asma. Karena si sulung juga memiliki penyakit ini, aku siap dengan nebulizer, obat semprot dan pil untuk melegakan pernapasan.

Apes, obat untuk inhalasi dan pil sedang habis. Sementara, obat semprot belum ketemu. Biasanya dibawa si sulung, untuk berjaga-jaga. Aku tak menyerah, kucari di kamar si sulung, siapa tahu hari ini obat itu ditinggal di rumah. Alhamdulillah, ada obat semprot lama yang masih tersisa sedikit. Bergegas, aku menuju kamar Budi. Tanpa bicara sepatah kata pun, aku semprotkan obat itu ke mulutnya. Tiga semprotan.

Aku duduk di samping Budi yang masih mengerang. Terdiam, menunggu reaksi obat. Sempat terbayang, seandainya Budi memiliki anak, tentu dia bisa membantu di saat ayahnya dalam kesulitan seperti ini. Tapi faktanya, Budi dan Windy, tak memiliki anak. Mereka hanya hidup berdua.

Apesnya lagi, hubungan dengan tetangga tak semanis madu. Mereka tertutup. Tak pernah ikut kegiatan sosial, kerja bakti, mapun hadir di masjid dalam ritual keagamaan. Mereka merasa nyaman dengan kesendiriannya. Beruntung, sebulan terakkhir tabiat kurang menyenangkan itu perlahan-lahan memudar.

Budi mulai menyapa tetangga. Pernah ikut kerja bakti membersihkan jalan di depan rumahnya. Istrinya mulai bertegur sapa. Sejatinya, istri Budi adalah wanita ramah. Keenggenannya bertegur sapa karena takut akan amarah Budi. Menurut dongeng, saat muda Windy pernah berselingkuh dengan brondong alias anak baru gede (ABG). Sejak itu, Budi melarang Windy bergaul. Dengan siapa pun.

Perubahan sikap Budi dan Windy itu yang membuat tetangga iba ketika asma Budi kambuh. Meski sebenarnya pagi itu aku harus buru-buru ke kantor karena pekerjaan menumpuk, namun aku tak tega mendengar Budi mengerang, menahan sakit. Semprotan tiga kali ke rongga mulut Budi bisa meredakan sakitnya.

***

Setelah Budi diam karena sesak napasnya berkurang, aku balik ke rumah. Bersiap-siap ke kantor. Ini hari Senin. Tak elok jika datang terlambat. Apalagi, alasannya membantu tetangga sakit. Tak profesional dan terkesan mengada-ada.

Aku masuk ke kamar mandi dengan riang gembira. Tak lagi mendengar erangan orang sakit. Bagiku, kamar mandi adalah tempat ternyaman untuk ‘merenung.’ Dari sinilah kadang muncul ide brilian, judul berita menarik atau lead sebuah berita. Ide-ide itu biasanya muncul saat buang hajat atau mandi di bawah shower dengan air dingin yang perlahan-lahan mengucur ke atas kepala. Tetesan-tetasan air itu bagai pintu pembuka kreativitas. Di kamar mandi inilah aku membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Untung, pagi itu semua anggota keluarga sudah berangkat, mengurus kepentingan mereka sendiri. Tak ada yang mengusikku. Setelah membasuh seluruh badan, giliran air mengucur ke kepala. Momen yang menyenangkan. Rambut super tipis membuat siraman air itu begitu terasa di batok kepala. Dingin-dingin menyegarkan. Menikmati kucuran air dingin itu, aku memikirkan lead berita mengenai museum perdamaian di Prefektur Okinawa. Bagaimana orang sadar bahwa perang hanya akan membawa penderitaan bagi masyarakat.

Di saat renungan itu belum membuahkan hasil, bel rumah berbunyi nyaring. Dipencet berulang-ulang membuatku kesal. Segera aku mengambil handuk, mengeringkan badan, berganti celana pendek dan kaos, lalu keluar rumah.

“Pak, Budi kambuh lagi,’ ujar Rini, tetangga sebelahku. Meski kesal karena bakal terlambat ke kantor lagi, aku masuk ke rumah Budi. Kali ini tak ada pilihan lain, harus memboyong Budi ke rumah sakit. Dan perlu diketahui, birokasi ke rumah sakit pemerintah di negeri ini, sungguh berbelit. Harus ada rujukan dari puskesmas atau klinik kelas satu. Padahal, belum tentu mendapat tempat tidur sesuai yang diinginkan. Dan untuk urusan ini, tidak mungkin aku yang mengurusnya.

Aku memutuskan untuk menelepon Windy, istri Budi. Bertanya pada Budi, rasanya tak mungkin. Nafasnya terengah-engah. Aku ambil HP di dekat kepala Budi yang berbaring. Kubuka phone book, mencari-cari nama Windy. Tak ada.  Lalu kuganti dengan kata mama, ibu, bunda sampai umi. Nihil juga.

Setengah jengkel, HP itu aku dekatkan wajah Budi. “Mana nomor HP istri sampeyan?” Dengan susah payah, Budi mencari daftar nama di phone book sesuai abjad. Dia menaikkan krusor, dari W ke atas sampai ke huruf J. Budi menunjuk kata Jembut. Ya, ia memanggil istrinya dengan kata itu. Istri yang selama ini menafkahi hidupnya, merawat dari sakit serta menjaga agar ia tetap sehat disamakan dengan rambut kemaluan.  Sebuah ironi di pagi hari.

Niatku menelepon Windy mulai kendor. Sempat berpikir, biarkan saja pria ini meninggal perlahan-lahan, menebus dosa pada istrinya yang sudah bertumpuk selama bertahun-tahun. Namun, rasa kemanusiaanku terusik melihat derita Budi yang ada di depan mata. Aku menelepon Windy, memberi tahu kondisi suaminya.

Kutinggalkan kunci mobil pada Rini seraya berpesan agar mencari tetangga yang bisa menyetir untuk mengantar Budi sampai ia mendapatkan rumah sakit. Aku berangkat ke kantor dengan kata jembut terngiang-ngiang di telinga. Kupret!!! * (Ditulis dari 8 Desember 2016 sampai 2 Maret 2017, sebuah cerita yang tertunda)

 

 

 

 

 

 

Foto Aksi 212 di Jakarta

 

Foto diambil dari jembatan penyeberangan di depan Hotel Sari Pan Pacifik pada 2 Desember 2012 pukul 10:53 WIB. (Joko Harismoyo)
Foto diambil dari jembatan penyeberangan di depan Hotel Sari Pan Pacifik pada 2 Desember 2012 pukul 10:45 WIB. (Joko Harismoyo)

 

Jembatan Penyeberangan
Jembatan penyeberangan menjadi salah satu tempat favorit untuk selfie. Jurnalis pun banyak mengambil gambar melalui tempat ini. Foto diambil 2 Desember 2016 jam 10:47 WIB. (Joko Harismoyo)

 

Sarinah
Peserta Aksi Damai 212 bergerak dri arah Bunderan Hotel Indonesia menuju Monas. Mereka tertahan di depan BPPT karena massa sudah penuh. Foto diambil 2 Desember 2016 jam 10:44 WIB. (Joko Harismoyo)

 

Stasiun Gondangdia
Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, menjadi salah satu tempat berkumpul bagi peserta Aksi 212 yang menuju Monas dengan naik Commuter Line. Untuk keluar stasiun membutuhkan waktu sekitar 15 menit karena banyaknya penumpang. Foto diambil 2 Desember 2016 jam 10:15 WIB. (Joko Harismoyo)

Mendadak Nikah

Foto: hipwee

Malam Jumat itu Riko sengaja pulang lebih cepat dari biasanya. Rintik hujan di stasiun diterabas. Jas hujan instant seharga sepuluh ribu rupiah mampu melindungi tubuh kurusnya dari percikan air hujan.

Sesampai di rumah, ia merebahkan tubuh di sofa, persis di depan TV yang sedang memutar acara Golden Memories. Acara yang dibenci anak-anak Riko karena menampilkan artis lawas dengan lagu-lagu mendayu tempo dulu.  Sesuatu yang tak kekinian bagi anak-anak muda sekarang.

“Golden bangeetsss,” ujar salah satu juri wanita sambil memiringkan kepala ke pundah, diikuti seluruh penonton. Riko tersenyum. Entah sinis atau geli dengan ulah juri itu. Suaranya mendayu-dayu, super melow. Kadang, jadi bahan candaan tiga host. Tapi, tindakan aneh ini justru kadang menjadi daya tarik tersendiri.

Suara bel rumah mengangetkan Riko. Hanya bersinglet, Riko membuka pintu. “Pak, diundang ke rumah Badrun untuk pengajian,” ujar tamu tanpa merinci apa maksud dan tujuan pengajian tersebut. Riko pun tak bertanya karena biasanya tiap malam Jumat digelar pengajian rutin.  Tempatnya berpindah-pindah. Ia berpikir, mungkin ini jatah Badrun, tetangga depan rumahnya.

Riko kembali duduk, menonton TV. Salah satu juri pria menyanyikan lagu berjudul Preman. Suara dan semangatnya masih sama dengan puluhan tahun silam. Serak. Hanya, nafasnya sudah terengah-engah. Tak sehebat waktu muda.

Mau mandi, Riko masih malas. Gerimis belum juga reda. Air di penampungan, meski tak terkena hujan langsung, pasti dingin terpapar dinginnya angin malam. Lagi pula, acara TV menarik. Bukan karena penyanyi atau jurinya. Tapi, penonton acara itu adalah teman-teman seangkatan saat SMA. Di antara mereka terdapat Menik, mantan kekasihnya.

Meski sudah tak muda, sisa-sia kecantikan dan kenes Menik masih terlihat. Dia menyanyi sambil menggerakkan tajngan ke kanan kiri, mengikuti arahan floor manager. Berkerudung pink, penampilan Menik sepuluh tahun lebih muda dari umur sebenarnya.

Riko tersenyum. Mengenang masa muda saat mereka menonton film Warkop DKI di Magelang Theater, gedung paling keren di kota tersebut. Sebelum nonton, mereka mampir ke Es Semanggi di dekat gedung itu.

“Cepetan mandi! Diundang pengajian kok lelet,” gerutu istri Riko. Ia tahu, bukan malas mandi yang membuatnya marah. Tapi, penampilan centik Menik di TV yang membuatnya cemburu.

“Maaf, Pak. Sudah ditunggu. Pengajian akan dimulai,” tambah tetangga sebelah yang tiba-tiba nyelonong masuk ke rumah Riko.

***

Riko memilih koko putih yang masih tampak baru karena hanya sekali dipakai saat Lebaran. Dipadu peci dan sarung hitam, Riko tampak religius. Apalagi jenggotnya dibiarkan memanjang, meski hanya beberapa helai.

Dia melangkah ke rumah Badrun. Setelah mengucapkan salam dan menyalami seluruh tamu yang ada di teras, dia merapatkan jari-jari di depan dada seperti orang bersalaman, lalu membungkuk ke arah tamu yang ada di ruang dalam. Memberi hormat karena tidak mungkin menyalami semua tamu di dalam.

“Masuk dalam saja, Pak. Sini kosong,” kata Badrun sambil menggeser tempat duduknya sehingga menyisakan ruang kosong. Pemuda yang berada di teras juga menyilakan Riko masuk. Tokoh masyarakat tak pantas duduk bersama anak muda yang lebih banyak bercanda saat pengajian berlangsung.

Beberapa tokoh masyarakat sudah datang. Pengajian belum dimulai, ketua RT yang sedang dalam perjalanan. “Bentar ya pak. Nunggu Pak RT. Lagi ke sini,” ujar Badrun sambil mengeluarkan rokok, makanan ringan dan kopi. Jamaah diam. Mereka asyik merokok atau makan kacang rebus sambil mengobrol sendiri.

“Suara Iis keren. Bajunya sopan. Kayaknya dia bakal juara,” ujar seorang jamaah mengomentari kontes penyanyi dangdut di sebuah televisi yang sudah memasuki babak final.

“Bagusan Wiwik. Cengkoknya pas banget. Goyangannya oke,” tambah jamaah lain.  Diskusi mengenai siapa yang bakal menjadi juara kontes itu berlangsung seru. Mereka sepertinya lupa kalau diundang di acara pengajian, bukan dukung-mendukung biduan pantura.

Di tengah perdebatan seru, ketua RT masuk teras. Semua diam, menjawab salam dilanjut bersalaman. Ketua RT duduk di sebalah kanan Badrun.

“Berhubung Pak RT sudah datang, acara kita mulai. Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena hanya berkat rahmat dan karunianya kita bisa berkumpul di sini. Saya mengucapkan terima kasih kepada jamaah  yang sudah menyempatkan diri datang ke gubug saya,” ujar Badrun membuka acara.

Dia berhenti sejanak, menarik nafas dalam-dalam, kemudian melanjutkan, “Saya mengundang bapak-bapak ke sini untuk menyaksikan akad nikah anak saya, Ratna dengan pria pilihannya, Galuh.”

Jamaah diam. Kaget. Termasuk Riko. Dia Gak menduga kalau malam ini adalah akad nikah Ratna. Tidak ada tanda-tanda ke arah situ. Di rumah Badrun pun tak ada tetangga atau orang yang sibuk memasak. Juga tak ada tamu jauh ataupun saudara-saudara Badrun.  Tak ada juga tenda sebagai pertanda akan berlangsungnya hajatan.

“Mungkin jamaah bertanya, ada apa saya menikahkan Ratna? Saya tegaskan, tidak ada apa-apa. Seperti diketahui, saat ini Ratna kost di Yogyakarta. Di sana ia memiliki teman dekat pria. Dalam Islam, kita tidak mengenal pacaran. Saya khawatir kalau terjadi apa-apa, saya ikut menanggung dosa. Untuk mencegah itu, maka malam ini akan saya nikahkan,” jelas Badrun.

Dia kembali menarik nafas dalam-dalam. Lalu mengundang Ratna dan Galuh untuk masuk ke ruang tamu.  Ratna mengenakan baju muslim warna putih, sedangkan Galuh memakai jas dengan celana jeans. Mereka duduk di hadapan Badrun.

“Saya mohon Pak Ustadz menjadi saksi pernikahan ini,” ujar Badrun ke arah ustadz yang duduk tak jauh darinya. Ustadz mengangguk. Badrun sendiri yang akan melangsungkan ijab kabul karena ia memang seorang penghulu.

“Mana mas kawinnya, keluarkan!” kata Badrun kepada Galuh. Galuh melepas jam yang dipakai di pergelangan tangan kanan, kemudian memasukkannya ke dalam kotak warna putih.

Badrun mengumumkan kepada jamaah, bahwa persyaratan pernikahan sudah lengkap. Sudah ada calon mempelai, ijin wali, saksi, mahar sehingga tinggal melangsungkan pernikahan.

Badrun menjabat tangan Galuh, disaksikan seluruh jamaah. “Saudara Galuh bin Yahya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan gadis yang bernama Ratna binti Badrun dengan mas kawinnya berupa jam tangan dibayar tunai,” kata Badrun sambil menggetarkan jabat tangan agar Galuh segera menjawab.

“Saya terima nikah dan kawinnya Ratna binti Badrun dengan mas kawin yang tersebut tunai,” ujar Badrun mantap.

“Bagaimana jamaah, syah?” seru Badrun. Seluruh jamaah menjawab serentak, “Syah.” Wajah Badrun, Galuh dan Ratna tampak lega.

Kedua mempelai mengelilingi jamaah untuk bersalaman. Kemudian ustadz diminta memberikan khotbah nikah. Ustadz yang tak ada persiapan apapun tampak gugup. Khotbah berlangsung singkat dan padat.

***

Malam hari itu, berita pernikahan Ratna dan Galuh menyebar. Entah melalui medsos atau dari mulut ke mulut. Yang jelas, pagi hari, ketika mereka membeli nasi uduk untuk sarapan, berita tersebut mendapat rating paling atas.  Kasuk-kusuk. Ditambah bumbu-bumbu penyedap dari masing-masing orang.

“Kok mendadak amat sih. Jangan-jangan…,” ujar seorang ibu sambil menutup mulutnya. Pembicaraan kian seru. Selain mendadak, pernikahan Ratna dan Galuh tak dihadiri oleh keluarga Galuh, termasuk termasuk orang tuanya.  Hampir seminggu lamanya, berita ini menjadi gosip. Makin besar dan bermacam-macam versi.

Lama-kelamaan Badrun gerah juga. “Galuh, untuk menghentikan gosip pernikahan kalian, Bapak minta minggu depan Galuh mengajak ibu ke sini,” ujar Badrun kepada menantunya.

Selama ini, ibu Galuh tidak tahu kalau anaknya sudah menikah dengan gadis pilihannya. Sedangkan, ayahnya, menurut tutur ibunya, menghilang saat Galuh berusia enam bulan. “Dia menikah lagi dengan gadis kota,” kata ibu Galuh sambil menangis saat menceritakan ayahnya.

Sebenarnya Galuh belum siap memberitahu ibu yang kini menjadi orang tua tunggal. Dia meminta Galuh menyelesaikan studi dulu sebelum menikah. Tapi, karena mertua terus mendesak, akhirnya Galuh memberanikan diri. Memberi tahu pernikahannya dengan Ratna dan mengajak ibu berkunjung ke besan.

Badrun siap menyambut besan. Dia memasang tenda biru di depan rumahnya dengan deretan kursi yang dilapisi kain putih. Dia ingin membuktikan kepada tetangga kalau pernikahan anaknya adalah pernikahan yang wajar. Tak hadirnya orang tua Galuh bukan berarti mereka tidak merestui pernikahan tersebut.

Galuh dan ibunya tiba di rumah Badrun pagi hari, sekitar pukul 05:00 WIB. Mereka duduk di ruang tamu, menunggu Badrun yang sedang mandi. Ratna dan istri Badrun menemui Galuh. Mereka bercakap-cakap. Ibu Galuh lebih banyak diam. Mengamati wajah istri Badrun dan Ratna.

“Bikinin teh hangat untuk ibu. Kan capai naik kereta semalam,” ujar istri Badrun, menyuruh Ratna untuk membuat teh manis hangat bagi ibu mertua.  Ratna masuk. Tak lama kemudian ia membawa nampan berisi lima gelas teh hangat.

“Silakan diminum!” ujar istri Badrun. Ibu Galuh mengambil segelas teh, menyerutup teh hangat itu. Tubuhnya yang kedinginan terkena AC kereta mulai sedikit hangat. Perutnya pun terasa lebih enak. Tapi, dia masih diam. Ia syok dengan kenekadan Galuh yang menikah secara diam-diam, tanpa memberitahu wanita yang sudah mengandung dan membesarkannya.

Di saat ibu Galuh larut dalam lamunan, masuklah Badrun ke ruang tamu. Badrun tertegun. Memandang ibu Galuh nanar. Mulutnya terkunci. Tak bisa berkata-kata.

Ibu Galuh tersadar dari lamunan. Menatap Badrun, lalu berdiri dan berteriak, “Badrun!!!”. Tubuhnya lemas, pingsan.

Ketika tetangga berdatangan menolong ibu Galuh, Badrun terdiam. Ratna, Galuh dan istrinya menatap Badrun tajam-tajam.  Tatapan penuh kebencian dan amarah. *

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto Aksi Bela Islam II 4 November 2016

Foto Aksi Bela Islam II 4 November 2016 di sekitar Bunderan patung Kuda. Foto diambil di sekitar Jalan MH Thamrin dari depan gedung Menara Thamrin sampai dengan Bank Indonesia.

 

Perempuan Siap Saji

wanita
Foto: google.com

Hampir seluruh rambut Firman berwarna keperakan, sesusai usianya yang tiga bulan lagi pensiun. Meski tak lama lagi berkantor, semangat Firman masih menyala. Datang pagi, sebelum pegawai muda berdatangan, dan pulang larut malam.  Tak ada tanda-tanda mengendor.

Sayang, laporan dari bagian SDM, kinerja Firman tak lebih baik dibanding sebelumnya, biasa-biasa saja. Alasan ini yang mengurungkan niat kantor untuk memperkerjakan Firman sebagai karyawan kontrak pasca purna tugas.

“Ngopi yuk!” ajar Firman pada Ricka, teman sekantor yang usianya separo dirinya. Saat itu, sebagian karyawan sudah pulang karena jarum jam menunjukkan pukul 19:00 WIB. Mayoritas pegawai pulang sebelum atau sesudah magrib. Biasanya jam 18:30 kantor sudah sepi. Tinggal office boy dan sebagian anak IT yang memang piket malam.

Ricka tersenyum lalu berdiri. Keduanya berjalan menuju lift, masuk dan memencet lantai Ground Floor, tempat Starbucks, kedai kopi asal Amerika Serikat itu berada.

“Mas, aku Green Tea Latte aja,” ujar Ricka sambil memegang pundak Firman. Seperti biasa, Firman memilih Brewed Coffee meski berulang kali dokter mengingatkan Firman untuk menghindari minum kopi dengan alasan kesehatan.

“Bandel ya masih ngopi,” kata Ricka sambil meremas jari Firman. Tatapan matanya beradu. Saling pandang, lalu tersenyum. Firman mencoba tenang, meski detak jantungnya bergerak lebih cepat walau belum sempat mencicip kopi hitam tersebut.

Baru kali ini Ricka berani memegang jari Firman. Tiga bulan terakhir, Firman terus yang memulai. Menggandeng tangan Ricka saat turun ke cafe.  Membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Ricka duduk di kursi depan, di samping dirinya. Kembali membuka pintu mobil saat Ricka sampai ke apartemen sewaannya.

Selama tiga bulan tersebut, Firman memperlakukan Ricka bak putri. Namun, karena bukan ABG lagi, ia bisa melihat situasi dan kondisi. Di depan kolega, Firman tetap terlihat profesional. Hanya membicarakan urusan pekerjaan.

Urusan pribadi dimulai ketika mereka hanya berdua. Setidaknya, teman kantornya sudah pulang sehingga tidak menimbulkan kecurigaan, apalagi kegaduhan.  Itu pun tak mencolok. Tak ada percakapan mesra. Mereka berkomunikasi intens melalui aplikasi WA. Layaknya ABG, dalam berkomunikasi mereka juga menggunakan ikon emoji. Tanda bibir, apel atau orang tertawa. Tak ada yang tahu tingkah Firman dan Ricka, kecuali mereka berdua.

Di awal perkenalan, Ricka enggan menanggapi sapaan Firman. Lelaki ini lebih pantas menjadi ayahnya. Usia mereka terpaut jauh. Dia baru masuk kerja, sementara Firman tiga bulan lagi akan pensiun. Dua kutub yang berlawanan.

Firman pun semula tak memperhatikan Ricka. Namun karena Ricka bawahannya dan baru saja lulus kuliah, mau tidak mau, Firman harus mengajari. Membimbing membuat laporan keuangan yang benar. Memilah-milah pengeluaran dan memasukkan sesuai pos yang sudah ditentukan agar manajemen mudah melihat biaya operasional perusahaan.

Meski lulus dengan IP tinggi dan dari kampus ternama, namun Ricka belum bisa dilepas begitu saja. Sebagaimana perguruan tinggi di Indonesia, lulusannya belum siap kerja. Mereka masih dalam tahap siap latih. Jadi tetap membutuhkan supervisor dalam mengerjakan tugas sehari-hari.

Karena sering bertemu, obrolan Firman dan Ricka bukan hanya soal pekerjaan. Kadang mereka cerita masalah pribadi. Ricka yang belum mengenyam asam manis kehidupan sering menceritakan perilaku suami yang menurutnya kurang bertanggung jawab.

“Kalau temennya datang, dia bisa pergi sampai subuh. Tak memedulikan saya yang menunggu sepanjang malam di depan televisi,” keluh Ricka suatu ketika.

Firman mendengarkan cerita Ricka dengan seksama. Tak menyudutkan suami Ricka, tetapi juga tidak memberi saran apa-apa. “Saya yakin, kalau dibicarakan ada jalan keluarnya. Tetapi saya heran kenapa ada pria yang membiarkan istri seperti Ricka di rumah sendirian. mau cari yang secantik apa sih?” kata Firman dengan tatapan mata tajam ke Ricka.

Tatapan yang menghujam ke ulu hati seperti ini sudah setahun sirna dari kehidupan Ricka. Badrun, suaminya, tiap pulang kerja istirahat sebentar kemudian nonton TV sambil memegang HP. Pang ..ping…pang….ping. Bunyi pesan masuk bersautan. Dan Badrun lelap dalam dunianya sendiri. Tak peduli Ricka sedang menanti sapaan dan belaian darinya.

“Minggu depan saya ke Medan. Ke kantor cabang. Ricka bisa ikut?” ujar Firman memecahkan lamunan Ricka. Firman segera melanjutkan, “Ini tugas luar kota terakhir saya. Masak Ricka gak bisa nemanin. Saya sudah mengajukan usulan ke pimpinan dan disetujui.”

Ricka terdiam. Ada sejengkal kejengkelan di sana. Buat apa bertanya kalau usulan itu sudah disetujui atasan. Katakan saja ini perintah sehingga harus dijalankan. Tidak perlu berbasa-basi. Seandainya bukan perintah pun, dia bersedia ikut. Inilah kesempatannya untuk berdua dengan Firman dan melepas kepenatan bersama Badrun.

“Nanti saya ijin ke suami dulu. Mudah-mudahan dia tidak keberatan karena sudah disetujui pimpinan,” ujar Ricka dengan mata berbinar. Tangannya meraih  Green Tea Latte panas di depannya. Menyerutup sambil mencuri pandang pada Firman. “Waktu muda pasti ganteng juga nih bapak,” batinnya.

“Besok kabari ke saya, bisa atau tidak. Karena akan pesan tiket pesawat sekaligus booking kamar hotel,” ujar Firman. Tangannya mengambil ponsel, lalu mengirim WA ke istrinya dan mengabarkan kalau minggu depan dia akan ke Medan untuk meninjau kantor cabang sehingga rencana ke Pulau Seribu bersama anak bungsunya terpaksa ditunda.

Tak lama kemudian, istri Firman membalas, “Tidak apa-apa, Pa. Mama sudah bilang ke Putri. Tapi akhir bulan ini mesti ke sana.”

Sehabis ngopi, seperti biasa, Firman mengantar Ricka ke apartemennya. Saat mobil berhenti, Firman memegang jari Ricka. Menatapnya tajam lalu mengecup keningnya. “Besok pagi kabari saya ya?”

Ricka terdiam. Jantungnya berdetak cepat. Dia menduga Firman akan mencium bibirnya. Tetapi, kecupan di kening itu tetap membuatnya deg-degan, seperti gadis SMA yang menerima setangkai mawar dari cowok yang menembaknya.

***

Sebagaimana biasanya, jam 07:00 Firman sudah duduk di meja. Mengecek email yang masuk, membalas yang perlu direply, serta menghapus email yang kurang berguna seperti penawaran asuaransi, penawaran mobil sampai penawaran kartu kredit premium.

“Saya bisa ikut, Pak. Sudah dapat ijin,” kata Ricka setelah duduk di samping Firman.

“Oke, nanti tiket biar diurus sekretaris. Saya akan booking hotel sendiri,” jawab Firman dengan mata masih menatap layar laptop. Tak sempat melihat Ricka yang tampil lebih fresh dibanding hari biasanya. Dia mengenakan blazer hitam dipadu dalaman warna pink. Terlihat lebih muda.

Firman melanjutkan browsing. Membuka situs untuk memesan kamar hotel. Dia memesan suite room hotel bintang lima. “Ricka, lihat sini. Kita menginap di sini saja yah. Bagus pemandangannya,” ujar Firman dengan sorotan mata bimbang. Takut kalau Ricka menolak menginap di suite room dan memilih kamar sendiri, terpisah dengan Firman.

Ricka melihat layar laptop Firman. Terdiam. Tak bereaksi apapun. Sebagai lelaki dengan jam terbang tinggi, Firman mengerti. Sikap diam Ricka berarti menyetujui ajakannya. ‘Diam berarti setuju’ adalah rumus yang umum dipakai lelaki saat tak ada jawaban dari wanita.

***

”Para penumpang yang terhormat. Dengan permohonan maaf, kami umumkan bahwa penerbangan  malam ini terpaksa dibatalkan. Para penumpang diminta untuk bersiap-siap menuju hotel. Pihak kami akan menyediakan mobil untuk transpor ke hotel. Terima kasih,” bunyi pengumuman di ruang tunggu bandara itu mengagetkan Firman dan Ricka. Mereka sudah sejam menunggu pesawat. Semula mereka mengira hanya terjadi penundaan, bukan pembatalan penerbangan.

Pembatalan penerbangan malam ini membuyarkan semua rencana Firman. Dia tak jadi menginap di suite room yang telah dipesannya. Penerbangan hari berikutnya pun pukul 09:00 WIB sehingga tiba di Medan sekitar jam 12:15.

Butuh waktu sekitar 15 menit untuk keluar dari Bandara Kualanamu (KNO), Untuk lunch dan perjalanan ke kantor cabang memerlukan waktu dua jam. Padahal, dia harus meeting mulai pukul 15:00. Nyaris tak ada waktu untuk berdua, bersama Ricka.  Tiket return Medan – Jakarta pukul 22:00. Jadwal padat.

“Kesempatan hanya malam ini,” gumam Firman. Matanya menerawang langit-langit, mencari inspirasi agar bisa mengajak Ricka pindah ke kamarnya. Pun, ia yakin Ricka tak keberatan karena kalau jadi menginap di Medan, toh mereka juga satu kamar.

“Untuk penumpang pria mohon naik ke bis warna biru, sedangkan penumpang perempuan bis warna putih. Kecuali pasangan suami istri,” pengumuman yang membuyarkan lamunan Firman. Terpkasa, dia harus berpisah dengan Ricka. Bukan sekedar bis yang mereka tumpangi. Maskapai tersebut menyedikan gedung yang berbeda untuk pria dan wanita.

Hotel tersebut memiliki tiga gedung bertingkat. Satu gedung khusus wanita, satu gedung untuk pria dan satu lagi untuk pasutri. Security gedung akan melarang lawan jenis masuk ruangan, kecuali di gedung pasutri. Untuk menginap ke gedung pasutri harus menyerahkan fotocopy surat nikah.

Tiba di kamar hotel, Firman merebahkan badan ke tempat tidur, tanpa melepas baju, dasi dan sepatu. Dia terbangun ketika resepsionis hotel meneleponnya atas permintaan Ricka. Mereka harus berbegas menuju bandara agar tak terlambat. *